07 September 2008

Mengintip Peluang Baju Lukisan Tangan

Setiap orang pasti merasa bangga jika disain pakaian yang dikenakannya cuma satu-satunya di dunia. Apalagi kalau pakaian tersebut merupakan perpaduan antara bahan tekstil berkualitas baik dengan seni lukis bernilai tinggi. Wajar saja kalau harga yang harus dibayarkan untuk memiliki pakaian tersebut sangat mahal.

Peluang itulah yang dimanfaatkan pasangan suami istri Yudi Yudiantara dan Gilang Kancana, pemilik galeri E'Mouw Painted Textiles di Kota Bandung. Yudi bertutur, dari awal, ia dan istrinya memang sengaja menjalani bisnis tersebut. Sejak menikah di awal tahun 2000, dua sejoli ini memang berniat berwiraswasta. "Tapi, kami ingin membuat kerajinan yang beda. Suatu kerajinan yang secara desain dan prosesnya tidak gampang ditiru orang," kenang Yudi.


Akhirnya pilihannya jatuh pada meneruskan usaha keluarga Yudi, yaitu membuat pakaian yang dibubuhi karya seni lukis. Pemain di bidang usaha ini memang jarang. Sang istri lantas membuat beragam sketsa lukisan berikut model pakaian yang elegan dan mengikuti tren fashion saat itu. Setidaknya, dibutuhkan waktu selama satu tahun untuk membuat disain-disain baru guna menggusur desain warisan keluarga yang memang sudah ketinggalan zaman.

Pameran pertama yang diikuti Yudi digelar bulan Juli 2001 di Bandung. Awalnya, untuk memperkenalkan pakaian kreasi baru itu memang terasa berat. Terutama karena harganya yang lumayan mahal. Usai pameran itu, Yudi dan Gilang hanya mendapat pesanan 15 potong pakaian. Tapi bukannya lantas menyerah kalah. Keduanya justru semakin sering mengikuti pameran di beberapa kota di Indonesia. Akhirnya, semakin banyak penggemar pakaian lukis datang sendiri ke galeri mereka di Bandung

Rajin ikut pameran

Dengan dibantu lima orang karyawan, saat ini produksi pakaian lukis merek E'MouW bisa mencapai angka 100 potong setiap bulan. "Ada atau tidak ada pesanan, kita tetap memproduksi sebanyak itu, baik berbahan sutera atau polyester," kata Yudi.

Tahun lalu, ia mengaku mendapat pesanan 480 blouse dari sebuah perusahaan swasta untuk seragam karyawatinya. Pesanan itu ia mampu diselesaikannya dalam 2,5 bulan. Di luar itu, Yudi juga pernah mengikuti pameran sampai luar negeri, diantaranya Kuala Lumpur, New Delhi, serta Berlin, Jerman.

Harga satu potong pakaian lukis bervariasi. Mulai dari Rp 75.000 sampai Rp 5 juta. Harga yang paling murah untuk kaos berbahan polyester yang dilukis dengan cat tekstil pigmen, sementara yang paling mahal berupa gaun malam berbahan sutera yang dilukis menggunakan cat tekstil reaktif.

Selain karena faktor bahan baku, perbedaan harga itu, menurut Sarjana Teknik Mesin Institut Sains dan Teknologi Nasional Jakarta ini, juga dihitung dari tingkat kerumitan dan lamanya proses pengerjaan. "Ada kaos yang harganya sampai Rp 250.000 menggunakan cat tekstil reaktif. Itu pengerjaannya bisa tiga hari sampai seminggu. Sementara, kalau yang menggunakan cat tekstil pigmen bisa murah karena satu hari sudah bisa selesai," terangnya.

Untung, Yudi bukanlah seseorang yang pelit ilmu. Menurutnya, ada beberapa tahap yang harus dilakukan untuk membuat pakaian lukis. Pertama, kain sutera, katun, atau polyester berwarna putih diberi pola dasar terlebih dulu.

Setelah itu, kain tersebut direndam dan diberi warna dasar sesuai yang diinginkan. Baru setelah itu dilukis sesuai pola. Setelah itu, kain berpola itu dipanaskan. Untuk bahan sutera, pemanasan menggunakan steam. Sementara, yang berbahan polyester cukup pakai setrika. Tujuannya, supaya warna tidak berubah dan menempel di bahan. Setelah itu, baru tahap finishing.

"Kalau ada warna yang kurang, kami tambahin. Kelihatannya sederhana. Tetapi, begitu praktek tetap saja rumit. Soalnya, sering timbul warna yang enggak sesuai," jelas Yudi.

Dengan harga jual segitu, wajar kalau Yudi dan Gilang bisa mengantongi omzet rata-rata Rp 30 juta setiap bulan. Selain itu, dari harga jual di atas, paling tidak mereka mengutip keuntungan sebesar 50 persen. Maklum, produk pakaian lukis ini sangat erat hubungannya dengan karya seni yang perlu dihargai tinggi.

Ke depan, Yudi dan Gilang berencana mengembangkan bidang usahanya. Tidak hanya membuat pakaian lukis, tetap juga akan dimanfaatkan untuk menjamah usaha disain interior. "Harganya bisa sampai Rp 10 juta untuk jasa disain interior. Bentuknya bisa lukisan buat hiasan dinding atau pemisah ruangan," tambahnya.

Oleh : Gentur Putro Jati [Kompas.com]
Selengkapnya...

06 September 2008

Raja Bisnis Laundry di Kota Gudeg

Kegigihan mengantarkan Fen Saparita menjadi penguasa bisnis laundry di Yogyakarta. Ia bahkan sukses mewaralabakan Melia Laundry miliknya ke berbagai kota di Jawa Tengah.

Perjalanan satu mil selalu dimulai dengan satu langkah. Fen Saparita memulai menapaki jagat bisnis dengan keberanian meninggalkan karier di posisi yang cukup enak dan penghasilan lumayan besar di pabrik Semen Gresik, Tuban, Jatim. Penentangan dari keluarga besar -- termasuk sang istri tercinta -- atas keputusannya mengembangkan usaha sendiri tak menyurutkan langkah kelahiran 1962 ini. Fen bahkan nekat melego rumahnya di bilangan Jatibening, Jakarta Timur seharga Rp 250 juta. Hasil penjualan rumah itu yang kemudian dijadikan modal mengibarkan usaha laundry di Yogya, kota kelahirannya.

Fen ternyata tak keliru dengan pilihannya. Bisnis laundry yang ditekuninya sewindu lalu sekarang telah merambah berbagai kota di Jateng. Kini, total ada 200-an jaringan laundry dalam genggamannya. Hebatnya, Fen tak perlu merogoh kocek untuk mengembangkan usahanya itu. Pasalnya, ia memperluas jaringan bisnisnya dengan sistem waralaba (franchise).

Setiap franchisee yang ingin memakai brand Melia Laundry (ML) paling tidak mesti menyiapkan investasi Rp 65-100 juta. Besaran investasi tergantung pada alat produksi yang disiapkan, termasuk lokasi kota pemohon franchisee. Untuk kota kecil, biasanya cukup investasi sekitar Rp 65 juta karena hanya memerlukan peralatan produksi berkapasitas sedang. Adapun untuk kota besar yang diestimasi pasarnya juga besar bisa mencapai Rp 100 juta, sebab harus menggunakan peralatan produksi berkapasitas besar pula. Untuk para franchisee ini, Fen mematok fee royalti 10% per bulan.

Fen akhirnya mampu mewujudkan mimpinya menjadi wirausahawan sukses. Ia menyadari, sukses bukanlah masalah keinginan, melainkan hasil kerja keras dan keberanian bersikap. Impian tak akan pernah terwujud kalau ia masih bertahan menjadi karyawan dan mengikuti nasihat keluarganya. Tantangan terberat ketika akan memulai usaha justru datang dari keluarga sendiri,kenang bapak dua anak ini. Alasan penentangan keluarganya saat itu karena Fen dinilai tidak cukup mumpuni dalam berbisnis.

Toh, Fen nekat. Bahkan, ketika meluncur ke Kota Gudeg pada 1996, ia sama sekali belum tahu mau menggelindingkan bisnis apa. Ketika itu yang ada dalam benak saya hanya keinginan memiliki usaha sendiri, ujar Fen, yang sepertinya terobsesi berpindah kuadran dari karyawan menjadi pengusaha, seperti yang disarankan Robert Kiyosaki.

Saat tiba di Yogya, baru terbersit untuk membangun bisnis pencucian pakaian alias laundry. Menurut kalkulasi saya, bisnis jasa cuci pakaian memiliki peluang besar karena belum ada pemainnya, tutur Fen. Saat itu, bisnis laundry di Kota Pelajar ini belum semarak sekarang. Bahkan, boleh dibilang Fen sebagai pelopor bisnis laundry di Yogya. Ketika memulai bisnisnya, Yogya masih bebas dari ratusan papan nama penjual jasa laundry. Sekarang, hampir di setiap gang -- terutama kawasan komunitas mahasiswa -- dijejali papan nama yang menawarkan bisnis cuci pakaian. Sejak dua tahun lalu, laundry memang menjadi bisnis primadona yang diincar banyak orang di Yogya. Tak pelak, persaingan bisnis ini cukup ketat. Buntutnya, perang harga menjadi strategi jualan mereka. Jasa laundry mahasiswa ini mematok harga hanya Rp 300 - 2.000/potong.

Namun, strategi banting harga tersebut tak menurunkan pamor ML. Sejak awal, Fen telah memosisikan jasanya untuk kelas menengah-atas. Dengan sasaran kelas itu, ia memilih membuka agen di kawasan perumahan elite dan beberapa pusat perbelanjaan. Menurut Fen, nama Melia diambil dari bahasa Jawa, milio, yang berarti mengalir. Supaya enak didengar saya ubah menjadi melia, ungkap Fen.

Langkah awalnya bukan tanpa sandungan. Setelah bulat memilih usaha jasa cuci pakaian, Fen malah kebingungan. Pasalnya, ia sama sekali tidak paham seluk-beluk bisnis ini. Ihwal teknik cuci baju pun sama sekali ia tak tahu. Manajemennya, bahkan cara kerja alatnya pun saya buta sama sekali, Fen mengakui. Untuk mencari tenaga kerja, ia lantas membuka iklan lowongan pekerjaan di koran lokal. Ditunggu sampai beberapa lama ternyata tak satu pun surat lamaran mampir ke tempatnya. Saat itu ia mengaku nyaris putus asa. Sampai suatu waktu datang pelamar dari Purworejo, Jateng, yang mengaku tertarik bergabung. Orang itu sendiri sudah memiliki pengalaman bekerja di jasa laundry. Dia satu-satunya orang yang datang melamar, katanya. Tak sekadar mendapat tenaga kerja, Fen mengaku mendapat pengetahuan cukup tentang bisnis laundry dari orang tadi.

Untuk menambah karyawan, terpaksa Fen membajak beberapa orang yang sudah punya pengalaman bekerja di laundry dari Jakarta. Dengan modal Rp 200 juta hasil melego rumahnya, Fen membeli peralatan kerja, seperti mesin cuci dan mesin uap. Ia memulai usahanya dengan membuka gerai di Jl. Simanjuntak, kawasan Kampus UGM dan Jl. Kaliurang. Namun, Dewi Fortuna tak segera menghampiri Fen. Tiga bulan pertama, ML sepi pengunjung. Ia bersama karyawannya hanya ongkang-ongkang kaki sebab tak ada orderan cucian yang masuk. Tak pelak, ia harus menomboki untuk biaya operasional dan gaji karyawan.

Dalam keadaan nelangsa, ide lantas menyeruak. Fen pun memutuskan menjaring konsumen kelas menengah-atas. Ia kemudian membuka gerai ML di Hero. Meski sewanya cukup tinggi, Fen nekat menyewa tempat 1 x 2 meter. Strategi ini ternyata menuai respons bagus. Order pencucian mulai berdatangan. Dari waktu ke waktu bahkan terus meningkat. Sukses di Hero memicu Fen membuka gerai di Mal Galeria.

Dari sini, ML terus berkembang. Fen kemudian melirik perumahan-perumahan elite untuk memperluas jaringan ML. Fen menggandeng mitra dengan sistem bagi hasil. Sekarang, sekitar 200 ML hadir di Yogya dan Semarang. Di Yogya, dengan sekitar 30 karyawan, setiap hari rata-rata menerima order pencucian 450 potong pakaian. Keberhasilan ML tak pelak diikuti pemain lain yang ingin ikut mencicipi gurihnya bisnis laundry. Tren gaya hidup laundry minded pun ikut memacu pertumbuhan bisnis ini di Yogya.

Banyaknya pemain yang mengerubuti bisnis ini tak membuat Fen cemas. Malah, perang harga, terutama laundry mahasiswa, juga tak menyurutkan semangatnya. Fen tetap konsisten mematok harga Rp 2.500-12.500/potong meski pemain lain mematok di harga Rp 300-2.000. Bisnis ML justru makin berkibar dengan sistem waralaba yang diterapkan Fen, beberapa bulan lalu.

Fen mengaku, ide mewaralabakan ML terbersit setelah ia menjadi murid Purdie Chandra di Enterpreneur University. Sebelumnya, Fen lebih banyak menjual peralatan laundry dengan sistem jual putus. Atas masukan dari Pak Purdie, saya bukan hanya menjual alat tapi juga nama perusahaan, tuturnya. Seperti telah dijelaskan di atas, untuk investasi, setiap franchisee dikenakan tarif Rp 65-100 juta. Modal sebesar itu disesuaikan dengan rata-rata omset laundry di Indonesia.

Investasi sebesar itu ternyata pernah membuat seorang calon mitra ML justru ragu-ragu. Seperti diceritakan Fen, saat berada dalam pameran usaha di Jakarta, ia didatangi seorang wanita yang mengaku berminat menjadi mitra usaha ML. Ketika disebut angka Rp 65-100 juta untuk investasi, calon mitranya terperangah dan malah ragu-ragu. Pasalnya, sebelumnya ia ditawari dari waralaba laundry asing yang investasinya di atas Rp 1 miliar. Menurut Fen, besaran investasi sejatinya tergantung kapasitas peralatan yang dibeli. Namun, lanjutnya, tidak perlu sampai mengeluarkan dana miliaran rupiah. Kecuali harus membeli peralatan serba besar dan canggih. Tapi untuk apa peralatan besar dan canggih, kalau dari hitungan bisnis malah tidak feasible, tukasnya. Selain investasi yang terbilang murah, selama masa waralaba yang berlangsung lima tahun, Fen akan mem-back up penuh urusan manajemen. Mereka hanya diberi kewajiban membayar fee royalti 10% per bulan.

Menurut Fen, sistem waralaba ini lebih menguntungkan bagi pebisnis yang ingin terjun di bisnis laundry. Membuka jasa laundry tidak segampang dan sesederhana yang dibayangkan orang, Fen berujar. Bukan sekadar mendapat order cucian lalu mencucinya dengan mesin cuci dan menyetrikanya lantas mengantongi uang jasa. Menurut dia, bisnis laundry membutuhkan banyak keterampilan dan memerlukan manajemen khusus. Pengetahuan tentang penanganan berbagai jenis bahan pakaian atau kain mutlak dimiliki. Masing-masing bahan kain memerlukan penanganan tersendiri. Ada yang cocok dicuci dengan air panas, ada yang bisa disetrika, ada yang khusus diuap. Kalau kami tidak menguasai pengetahuannya, bisa-bisa kami malah dikomplain konsumen karena merusak pakaian mereka, Fen menguraikan.

Dengan membeli waralaba ML menurut Fen, franchisee tidak perlu pusing-pusing mempelajari semua kerumitan bisnis laundry. Pasalnya, selain mendapat seperangkat peralatan kerja, mereka juga akan dipasok tenaga kerja dan manajemen. Seperti berpromosi, ia menjelaskan bisnis laundry sangat menarik sebagai investasi bagi mereka yang ingin mengembangkan usaha sendiri. Ini merupakan bisnis kepercayaan yang tak akan lapuk dimakan zaman, bisnis ini tidak mungkin mati, tuturnya. Apalagi, tren mencuci di laundry sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat perkotaan. Selama orang masih menggunakan produk tekstil, selama itu pula orang membutuhkan jasa laundry, kata Fen bersemangat.

Fen tampaknya bukan asal omong. Buktinya, waralaba ML mendapat respons bagus. Saat ini sudah ada beberapa orang yang antre ingin menjadi mitra bisnis ML. Yang sudah berjalan di Solo dan Tangerang masih dalam proses penjajakan. Fen sendiri membuka kesempatan kepada siapa saja. Hanya saja, untuk mencegah persaingan antarpemegang waralaba ML, ia akan menyurvei lebih dulu. Jika di lokasi itu sudah ada pemegang waralaba ML, ia akan menyarankan calon mitranya untuk membuka di lokasi lain. Kami tidak ingin terjadi persaingan yang tidak sehat antarpemegang waralaba Melia, ungkapnya.

Sigit Ismanto, salah satu pewaralaba ML, mengaku tertarik mengembangkan bisnis laundry karena melihat peluangnya yang bagus. Sigit yang mengembangkan ML di Solo menilai, prospek bisnis ini bagus sebab di Solo belum ada pemain laundry yang boleh dibilang profesional. Ada beberapa oknum yang membuka jasa ini asal-asalan. Ketika mendapat komplain dari pelanggan, mereka langsung menutup usahanya dan membuka usaha yang sama di tempat lain, paparnya. Sigit baru membangun jaringan ML di Palur, Solo, tiga bulan lalu dengan investasi Rp 65 juta. Saat ini ia tengah gencar membuka agen-agen di Goro dan Alfa. Ia mengaku optimistis bisnisnya akan bergulir dengan lancar. Indikatornya sudah jelas, saat ini pelanggan terus bertambah, kata bapak seorang anak yang juga membuka usaha bengkel motor ini.

Sigit mengaku membeli waralaba ML karena yakin dalam tempo tiga tahun modalnya akan balik. Sekarang, ia sudah mempunyai 8 agen dengan rata-rata melayani sekitar 50 pelanggan per hari.

Oleh : Henni T. Soelaeman [SWA]
Selengkapnya...

05 September 2008

Masa Depan Bening Kerajinan Resin

Kerajinan berbahan baku selain sepi pesaing, pasarnya juga terbuka luas. Peluang ini ditangkap oleh CV Mutiara.

Asbak adalah benda yang tidak asing apalagi bagi kaum perokok. Di satu rumah biasanya terdapat lebih dari satu buah asbak agar abu serta puntung rokok jangan sampai jatuh berceceran di lantai. Hal itu membuat Abdul Wafi, pengelola CV Mutiara, yakni sebuah kelompok perajin potensial di daerah Situbondo, Jawa Timur, yakin kerajinan asbak layak dijadikan sebagai produk unggulan.

Semenjak 2004 organisasi perajin yang ia pimpin merupakan produsen dan pemasar berbagai produk kerajinan tangan, terutama aksesoris berupa kalung, gelang, anting-anting, sabuk, sumpit, tas, gantungan kunci, cermin, kapal-kapalan, kotak perhiasan, juga papan selancar/ surfing, atau segala macam seni kerajinan yang bahan dasarnya dari kerang laut, monte, kayu, keramik maupun bebatuan. Dan kemudian baru pada 2006 CV Mutiara mulai memproduksi kerajinan berbahan resin.

Di samping asbak, jenis-jenis produk lainnya yang diciptakan yaitu tempat sabun, tempat sambel, tempat buah, gantungan baju, serta tempat bolpen. Produk-produk kerajinan ini sangat unik Bahan resin yang bening tersebut diberi kombinasi, di dalamnya dihiasi dengan bermacam-macam kerang laut. Selain itu perajin juga dapat membuatkan nama-nama khusus apabila dikehendaki.

Menyinggung latar belakang kerajinan resin tersebut Wafi menyatakan pada awalnya ia hanya fokus pada aksesoris, akan tetapi akhirnya disadari produknya sangat mudah mengalami pembajakan desain alias mudah ditiru. “Jadi produk-produk yang kami buat dengan desain yang unik, paling lama 2 minggu sudah dipastikan banyak perajin lain yang memproduksinya,” ungkapnya. Hal itu tidak terjadi terhadap kerajianan resin karena belum banyak perajin mampu membuatnya. Sementara itu produknya unik serta memiliki pangsa pasar jelas. Misalnya asbak digunakan oleh orang yang merokok, tempat sabun untuk kebutuhan semua kalangan, demikian pula tempat bolpen atau pensil. Selain dipergunakan sehari-hari juga bisa berfungsi sebagai hiasan sehingga cocok juga untuk cenderamata atau souvenir. “Artinya memiliki peluang pasar yang sangat luas,” tandasnya.

Wafi juga merasa tidak kesulitan dalam hal pengadaan bahan baku resin maupun kerang. Saat ini ia mempunyai perajin tetap 17 orang sebagai anak buah dan selalu berproduksi sekalipun sedang tidak melayani pesanan. Dalam satu bulan, dikatakan kelahiran Sumenep tahun 1978 ini, paling tidak karyawannya mampu memproduksi hingga 2000 asbak. Setiap perajin memiliki kelebihan dan keunikan masing-masing. Karenanya Wafi pun menerapkan pembagian kerja yang sesuai dengan keahlian mereka, misalnya khusus painting, desain, serta yang khusus melakukan pekerjaan umum di bagian resin.

Sebab masih jarang maka kerajinan resin tersebut nyaris sepi dari pesaing sehingga Wafi bisa mempertahankan harga jual dengan keuntungan lumayan. Sebuah asbak contohnya, laku dijual seharga Rp 19.000. Lebih mahal lagi gantungan baju bisa mencapai Rp 35 ribu per pcs dan nampan tempat buah dengan harga pesanan mencapai Rp 80 ribu. Karena keunikan yang dimiliki produknya sangat diminati. Penjualannya saat ini sudah merambah Bali, Jogyakarta, Jakarta, Medan, bahkan hingga Malaysia dan Austria. “Kalau harga sudah cocok dan customer mau order, yang pertama kami meminta deposit minimal 60% sebagai tanda keseriusan, dan sisanya setelah barang selesai,” paparnya. “Kalau order besar kami akan berikan diskon,” imbuhnya.

Untuk menjangkau pasar yang lebih luas maka pria yang pernah mencapai posisi lumayan pada sebuah perusahaan MLM (multi level marketing) ini menerapkan strategi pemasaran dengan cara direct selling maupun lewat internet. Dikatakan, CV. Mutiara saat ini telah memiliki perwakilan pemasaran di Surabaya dan di Pulau Sumatera. Diakui kendala utama yang dirasakan tidak lain adalah pemasaran. Saat ini baginya masih sulit mencari costumer dengan order besar dan kontinyu. Namun Wafi yakin, tidak hanya di pasar lokal, ia bermaksud mengembangkan pemasaran sehingga produk-produknya dapat diterima baik hingga pasar internasional. Agar dapat bersaing, seperti diungkapkan, tentunya dengan kwalitas yang bagus dan dengan ciri khas tertentu. “Kalau menurut saya produk kerajinan kami akan tetap eksis, asalkan kami jeli melihat perkembangan minat pasar dengan cara selalu berinovasi,” ucapnya optimis. Salah satu hasilnya, belum lama ia mendapat order tempat bolpen dari sebuah perusahaan di Malaysia meskipun dalam jumlah belum terlalu besar. Memang itu belum seberapa. Jika diperhitungkan secara sederhana jumlah rumah tangga yang butuh asbak, tempat sabun, dan lain-lain, maka kerajinan ini jelas mempunyai prospek cukup bersinar. Itu belum ditambah banyaknya kantor-kantor, hotel, penginapan, rumah makan, dan tempat-tempat lain. Silahkan coba mengkalkulasikannya sendiri!

Analisa Usaha Kerajinan Asbak Berbahan Resin:
Modal:Pembelian bahan dan peralatan diperkirakan Rp 50.000.000,-
Perkiraan biaya operasional pada bulan pertama Rp 10.000.000,- +
Total investasi awal Rp 60.000.000,-

Asumsi pendapatan per bulan (penjualan 2.000 pcs) Rp 38.000.000,- -
Keuntungan bersih dengan margin 40% Rp 15.200.000,-

Oleh : [Majalah Pengusaha]
Selengkapnya...

Peluang Usaha Kerajinan Batik Media Kayu Yang Mampu Merambah Pasar Internasional

Mungkin selama ini yang kita ketahui, kegiatan batik membatik hanya dilakukan diatas media kain. Tetapi ternyata membatik juga bisa dilakukan pada media selain kain, seperti: wayang, nampan, meja, topeng yang terbuat dari kayu dan hasilnya tak kalah indah dengan kain batik. Produk batik media kayu ini telah merambah pasar internasional seperti Australia, Amerika, Belanda, Kanada dan Jepang. Bagaimana potensi usaha batik pada media kayu ini?

Selama ini, untuk memperindah kerajinan kayu biasanya diukir, tetapi pengerajin dari Dusun Krebet, Bantul, mencoba melakukan inovasi untuk menambah nilai jual produk dari media kayu. Di dusun ini, terdapat dua puluhan sanggar seni dan sekitar 200 pengerajin.

Desain dibuat sendiri oleh pengerajin dan terdapat ratusan desain. Desain utama dari batik media kayu ini adalah : Jlereng dan Kawang, serta desain Kembang, yang motifnya divariasi atau di gabung-gabungkan. Motif khas Yogyakarta ialah Jlereng dan Kawang, namun motif lainnya juga muncul dari kreasi pengerajin sendiri maupun motif yang disesuaikan dengan permintaan pasar.

Dewala dengan sanggar Sri Rejeki-nya membuat beberapa mode baru bati malam dengan jenis produk berupa topeng batik, sandal batik, nampan batik, koaster batik dan lain-lain. Dalam sebulan bisa menghasilkan 1.000 pieces batin kayu, dengan harga jual antara Rp. 17.500 - Rp. 30.000.

Adapun teknik pemasaranya, selain membuka toko (showroom) di dusun Krebet, sanggar Sri Rejeki juga pernah mengikuti pamera di bali, Pekan Raya Jakarta, hingga Bantul Expo. Menurut Dewala, hasil produksinya jarang terserap pasar lokal. Karena menurutnya, sistem harga pada pasar lokal sudah tidak sehat, misalnya di Malioboro, persaingan bukan terjadi pada segmen “kualitas barang”, akan tetapi pada faktor “harga”, sehingga harga produk kerajinan makin lama makin terpuruk.

Untuk pasar lokal, Dewala hanya memproduksi jika ada yang memesan, seperti dari Bali, Jakarta, Bandung dan batam. Sedangkan untuk ekspor, produk batik buatan Dewala ini sudah masuk ke Australia, Amerika, Jepang, Belanda melalui perusahaan trading, sedangkan untuk Kanada melalui seorang turis yang datang sendiri ke workshop Sri Rejeki, yang kemudian memesan dan menjualnya di Kanada.

Adapun produk yang paling fast moving adalah nampan batik. Karena banyak peminatnya, kadang Dewala bekerjasama dengan pengerajin bambu di Sleman, jadi Sri Rejeki mengerjakan proses pembatikan saja.Untuk omset rata-rata baru 15 juta perbulan, dengan keuntungan kotor 50%, sedangkan jika menjual untuk pasar lokal keuntungan kotornya cuma 15%.

Tips pembatikan pada media kayu

Pilih kayu yang tidak mengadung minyak, hal ini dikarenakan pelarut warna untuk batik menggunakan air. Kayu yang baik yaitu: Sengon, Albasia, kayu Wadam, kayu Kembang, dan kayu Jati muda yang cocok untuk warna coklat. Yang paling bagus adalah kayu damar dari Wonosari, Gunung Kidul.

Bambu juga bisa dijadikan media batik, tetapi kulitnya harus dibuang terlebih dahulu. Yang paling baik bambu apus, biasanya dibuat menjadi nampan atau tempat CD/ Compact Disk. Rotan juga bagus, karena menyerap warna.

Pertama-tama kayu diukir, lalau diamplas sampai halus, lalu digambar dengan pensil. Selanjutnya, kayu tadi dibatik warna hitam sebagai warna dasar, lalu direbus, dan setelah kering dibatik dengan warna lainnya.

Motif yang biasa di pilih antara lain : motif Parangrusak, Parangbarong, Kawang, Garuda, Sidomukti, Sidorahayu dan motif-motif lainnya.

Sedangkan produk senirupa kayu yang dibatik bisa pada patung, wayang, hiasan dinding dan lain-lain. Setelah proses pada tahap kedua selesai, direbus kembali, lalu dikeringkan dengan cara diangin-anginkan.

Batik kayu tidak boleh dijemur langsung terkena cahaya matahari, karena warnanya bisa rusak atau pecah. Setelah kering baru difinishing menggunakan NL (zat untuk finishing anti zamur dan anti racun), bukan thinner melamin. Sebab thinner melamin baunya menyengat dan tidak baik untuk kesehatan apalagi untuk nampan wadah makanan.

Rata-rata prosesnya bisa memakan waktu 3 hari, oleh karena itu supaya bisa ekonomis, harus ratusan kayu yang di batik (massal).

Yang terpenting adalah proses awalnya, yaitu ukiran harus halus, karena jika tidak maka hasil akhirnya pasti jelek.

Selain itu untuk warna, formula pencampuran warna harus diusahakan stabil, karena sifatnya manual, agak sulit membuat campuran warna sama dalam waktu berbeda. Jangan sampai warna terkena tangan, karena akan sulit dibersihkan. Jika sudah terkena, bisa menggunakan abu soda ditambah air panas, sebaiknya menggunakan sarung tangan agar tidak terkena warna.

Info lebih lengkap dapat menghubungi:

Sanggar Sri Rejeki:
Showroom : Dusun Krebet Rt. 4 / 21, Desa Sandang Sari, Kecamatan Pajangan, Kab. Bantul, Yogyakarta. atau …
Pasar Seni Gabusan Los 10, Kab Bantul. Telp. 0274-7495653 (Bpk. Dewala)

Oleh : [Partisimon.com]
Selengkapnya...

04 September 2008

Peluang Usaha Helm Kepala Tengkorak

Jumlah pengguna sepeda motor yang tumbuh pesat telah membuka berbagai peluang usaha penunjang seputar sepeda motor. Usaha pembuatan dan penjualan perlengkapan bagi pengendara atau rider, misalnya, tumbuh marak. Salah satunya, tentu saja produk helm alias pelindung kepala.

Lantaran ada kewajiban bahwa semua pengendara sepeda motor memakai helm, suka atau tidak, mereka pun menggunakannya. Nah, demi mengurangi beban "keterpaksaan", pengendara suka memilih helm yang unik. Makanya, kita sering menjumpai helm ala tentara Nazi Jerman sampai helm bergaya ala pembalap Formula Satu.

Memproduksi helm-helm unik itulah kegiatan yang kini ditekuni oleh Decky Roverdy, pemilik Rhino Art Helmet. Ia tak cuma membuat helm yang nyaman dipakai, tapi juga menampilkan bentuk yang berbeda. Helm buatan Decky berbentuk tengkorak manusia. "Saya memang ingin membuat helm yang berbeda dari helm pada umumnya," ucapnya.

Bisa ditebak, helm tengkorak buatan Decky mampu mengundang perhatian konsumen. Awalnya, ia memasarkan helm tengkorak ini di Denpasar, Bali, pada Agustus 2007. Di sebuah outlet yang berlokasi di Legian, Kuta, dia memajang helm tengkoraknya. Di luar dugaan, outlet yang juga menjual berbagai pisau untuk koleksi itu ternyata banyak diminati para turis. "Pembelinya para turis, rupanya sekalian mereka jadikan kenang-kenangan," katanya.

Setiap bulan, di pulau Dewata saja, Decky mampu menjual 75 buah helm tengkorak. Harganya bervariasi, mulai Rp 300.000 sampai Rp 500.000 per unit. "Khusus di Bali, helm seharga Rp 300.000 saya jual Rp 400.000," jelasnya. Soalnya, dia mengaku harus menanggung biaya pengiriman ke pulau Dewata.

Kini rumah produksinya yang berada di kawasan Menteng Dalam, Jakarta, mulai kebanjiran pesanan. Sebagian helm dipakai pemesan sendiri, sebagian dijual kembali. "Pembeli pertama saya dari Australia memborong dalam jumlah banyak untuk dijual ke Australia," cerita Decky. Waktu itu, si bule membeli 35 unit.
Rencananya, dalam waktu dekat, Decky akan memasarkan helm tengkoraknya ke Swedia. Ada saudaranya yang mempunyai bisnis pisau koleksi lebih dulu memasarkan ke sana.

Akan halnya penjualan di Jakarta, Decky mengaku jumlahnya masih kalah ketimbang di Bali. "Sebulan cuma laku 50 unit," ungkapnya. Tapi, belakangan ini tren permintaan mulai meningkat. Bisa jadi, semakin banyak orang tahu ada helm berbentuk tengkorak.

Selalu membuat inovasi

Sayangnya, Decky belum punya cabang pemasaran selain di Bali dan di Jakarta. "Ada, sih, yang menawarkan jadi distributor di Surabaya, Yogyakarta, dan Semarang," ujarnya. Namun, sejauh ini tawaran itu masih dalam tahap pembicaraan.

Decky mengaku helm tengkorak ini berasal dari film Ghost Rider. Di film itu, bintang utamanya Nicholas Cage mengenakan helm tengkorak. Bersitan ide itu kemudian dia sampaikan kepada Renald, temannya yang jago mengolah bahan kimia.

Di awal bisnis, Decky mengeluarkan modal sebanyak Rp 5 juta. Modal itu ia gunakan untuk membeli bahan baku helm, kompresor, dan interior helm seperti gabus, tali, dan lainnya. Bahan baku lain adalah resin, talek, katalis, dan silicone rubber. "Dalam sekali produksi, saya sudah balik modal," kata Decky. Ia bilang, produksi pertama sebanyak 50 unit.

Saat ini, Decky sudah punya enam orang pekerja untuk memproduksi helm. Dalam sehari, mereka bisa produksi sampai 20 unit helm siap pakai. "Mereka harus punya ketrampilan," katanya. Saat ini, Decky sudah mempunyai sepuluh model. Menurut ia, inovasi model adalah hal terpenting. Soalnya, baru satu semester berproduksi, sudah ada peniru helm tengkorak. "Untuk mengantisipasinya, kami membuat helm dengan sentuhan berbeda," katanya.

Untuk mendapatkan model-model baru, Decky juga rajin berburu di dunia maya alias lewat internet. "Kami sering lihat tren model apa yang lagi ngetren di internet," ungkap Decky. Sekarang, ia sedang menyiapkan dua model baru. Menurutnya, terus memunculkan ide-ide baru adalah menjadi kunci sukses bisnis ini.

Oleh : Avanty Nurdiana/Kontan [Kompas.com]
Selengkapnya...

03 September 2008

Budiyanto Darmastono, Mantan Profesional Kartu Kredit Sukses di Bisnis Kurir

Setelah 15 tahun menjadi profesional di Dinners Club, ia hengkang dan mendirikan Nusantara Card Semesta. Kini perusahaan kurir ini telah merambah puluhan kota dan go international.

Gedung baru berlantai lima dan logo Nusantara Card Semesta (NCS) tampak kokoh di kawasan Slipi, Jakarta Barat. Kehadiran bangunan di atas tanah 1.000 m2 yang menelan biaya Rp 9 miliar itu menjadi momentum keberadaan NCS di bisnis kurir dan ekspedisi yang terkenal ketat. Perusahaan yang terhitung baru beroperasi di bisnis ini (11 tahun) sekarang memiliki 27 cabang di seluruh pelosok Indonesia, antara lain di Jabotabek, Bandung, Medan, Padang, Palembang, Solo, Surabaya, Yogyakarta, Manado, Gorontalo, Banda Aceh dan Denpasar. Bahkan, perusahaan yang sedang membangun gudang seluas 6 ribu m2 di Kemanggisan ini telah mengembangkan jaringan sampai Singapura.

Melihat prestasi yang ditorehkan NCS saat ini, tentu tak akan ada yang mengira perusahaan yang didirikan pada Desember 1994 ini awalnya hanyalah perusahaan kecil. Karyawannya saat itu 8 orang. Berbekal dana di bawah Rp 50 juta, Budiyanto Darmastono mendirikan NCS dan berkantor di rumah kontrakan seluas 200 m2 di Jalan Tali, Jakarta Barat. Budi butuh waktu sebulan untuk mempersiapkan seluruh perizinan, administrasi, organisasi kantor dan segala tetek-bengek usaha. “Awal Januari 1995 semua itu bisa saya selesaikan,” ujar Direktur Utama NCS ini.

Bagi pria kelahiran Karanganyar, Jawa Tengah, 37 tahun lalu ini, keputusan membuka usaha pribadi termasuk langkah kuda. Sebab, saat itu ia masih terhitung karyawan Dinners Club. Sarjana akuntansi dari Universitas Gadjah Mada ini sengaja membuka usaha sendiri karena ia menyadari sebagai orang gajian kehidupannya tak akan berubah banyak. “Kalaupun punya gaji, paling begitu-begitu saja,” ujar putra seorang guru di Karang Anyar ini. Padahal, pria yang pernah mencoba berbisnis minimarket ini berkeinginan memiliki kehidupan yang nyaman layaknya orang-orang berduit.

Pilihan bisnis di bidang kurir dan ekspedisi tak lepas dari pekerjaannya. Sebagai profesional di bidang keuangan, ia mencermati perusahaan tempatnya bekerja intens bersentuhan dengan bisnis kurir. Maklum, perusahaannya sering mengirim kartu dan surat dalam jumlah banyak kepada nasabah. Dan ia melihat waktu itu (1994), pemainnya belum terlalu banyak. “Kalaupun ada, beberapa. Tapi, proses kerjanya kelihatannya kurang profesional,” kata Budi.

Soal nama perusahaan, ada latar belakangnya. Awalnya, Budi ingin fokus pada jasa kurir di bidang card center. Tak mengherankan, mulanya ia memiliki klien yang berasal dari sektor usaha perbankan. “Ya, pokoknya yang terkait dengan urusan kartulah.

”Pada dua tahun pertama NCS berjalan, operasional perusahaan dilakukan sepenuhnya oleh sang istri, Reni Sitawati Siregar. Sementara Budi saat itu tetap bekerja di Dinners Club. Namun, untuk urusan pemasaran atau mencari pasar, Budi terlibat langsung. Semua urusan presentasi dan memperkenalkan layanan NCS dilakukan Budi. Maka, ia harus pandai-pandai mencari waktu agar tidak bentrok dengan pekerjaan kantor. Itulah sebabnya, ia tergolong sering cuti dan minta izin. “Yang penting kan, pekerjaan saya bisa kelar,” ujar ayah Gina Audrini (5 tahun) yang tiap Sabtu mengantar anaknya ke sekolah ini.

Kendati perkembangan usaha dalam dua tahun pertama tidaklah terlalu fenomenal, potensi pertumbuhannya cukup lumayan. Yang pasti, NCS bisa menggandeng beberapa perusahaan, seperti Bank Bali dan Merchantile Club, serta sejumlah restoran. Ini belum termasuk perusahaan-perusahaan kecil dan perorangan yang juga sering menggunakan jasanya. Nilai transaksi bulanan setiap klien saat itu masih sangat kecil, di bawah Rp 10 juta.

Memasuki akhir 1996, Budi memutuskan keluar dari Dinners Club dan terjun bersama sang istri mengibarkan NCS. Keputusannya keluar saat itu sebenarnya mendapat tantangan keras dari sang istri. Istrinya takut mereka kehilangan pendapatan tetap, yang biasa diterima setiap bulan. Sementara hasil usaha, lantaran baru jalan, sering sulit dipredikasi per bulannya.

Namun setelah Budi memberikan pengertian, istrinya mau memahami. Saat itu Budi yakin, jika ia terjun secara penuh, potensi perkembangan NCS bisa semakin besar. Akhirnya, setelah keluar dari perusahaannya dan fokus mengembangkan usaha sendiri, ia melakukan serangkaian pembenahan. Yang pertama, melakukan komputerisasi terhadap semua data klien yang masuk. Tujuannya, agar proses operasional perusahaan bisa dilakukan secara efisien dan cepat. “Paling tidak, kalau ada pelanggan menanyakan status pengiriman barang dalam jumlah banyak, perusahaan memberikan laporannya dengan cepat,” katanya. Hal-hal seperti itulah yang saat itu tidak dimiliki para pemain, kecuali DHL dan T&T yang sejak lama melakukan komputerisasi.

Pengembangan secara computerized ini ia lakukan, karena ia melihat perusahaan sejenis masih menggunakan metode yang konservatif, alias manual. Ketika klien ingin menanyakan status barang yang dikirim, perusahaan-perusahaan ini harus mencari rekap datanya terlebih dulu. “Proses manual seperti itu bisa memakan waktu lama,” ujarnya.

Sistem komputerisasi ini kemudian dijadikan Budi sebagai nilai tambah saat ia menawarkan jasa kepada calon klien. Pendekatan ini ternyata cukup efektif, sedikit demi sedikit sejumlah calon pelanggan bisa diyakinkan Budi, dan akhirnya mau menggunakan jasa NCS. Diakuinya, dalam sistem komputerisasi ini pelanggan tidak bisa mengakses secara online. Namun, NCS bisa memberikan laporan secara cepat tentang status barang klien. “Yang pasti, dengan adanya informasi pengiriman ini, NCS lebih bisa dipercaya,” katanya bangga.

Ketertarikan Budi terhadap proses kerja yang efisien memang tidak lepas dari pengalamannya. Ketika ia bekerja di Dinners Club, operasional perusahaan bisa dilangsungkan serbacepat dan efisien berkat dukungan teknologi informasi. Sementara yang dilihatnya, jarang sekali pemain kurir saat itu yang memanfaatkan TI, kendati dalam bidang yang sederhana.

Ia melihat dengan menerapkan TI, NCS tidak hanya bisa dipercaya karena keakuratan datanya, tapi juga pelanggan merasa puas. “Pokoknya, kami menawarkan alternatif layanan baru yang lebih bagus,” katanya. Buktinya, kendati NCS waktu itu baru berumur dua tahun (tepat saat Budi bergabung secara penuh), omset transaksi yang bisa dicatatkan per bulan bisa mencapai Rp 100 juta. “Sebuah angka yang menurut saya sangat bagus untuk ukuran pendatang baru,” ujarnya bangga.

Berkat kepiawaian Budi dalam mendekatkan diri dengan klien, NCS terus berkembang. Beberapa perusahaan baru -- dari sektor perbankan, asuransi, telekomunikasi hingga elektronik -- pun berhasil digaet,. Bahkan bisa dipastikan, porsi terbesar NCS saat ini terkonsentrasi di sektor perbankan. “Kini semua bank yang memiliki divisi card center, pendistribusiannya ditangani NCS,” katanya. Kliennya, antara lain, Citibank, HSBC, ABN Amro, Standard Chartered, BCA, Bank Mandiri, Bank Niaga, Bank Permata, GE Finance, Bank Bukopin, Bank Bumiputera, BII, Bank IFI dan Bank Danamon.

Kedua, sektor asuransi. Sebagian besar perusahaan asuransi ternama saat ini sudah menjadi klien NCS untuk pengiriman dokumen. Mereka antara lain Manulife, Sequislife, Astra CMG, Prudential, AIG Lippo, Axa Mandiri, Sun Life dan Asuransi Bintang. Sementara di urutan ketiga, sektor elektronik. Perusahaan di sektor ini menggunakan NCS untuk distribusi barang-barangnya ke berbagai tempat di seluruh Indonesia. Kliennya meliputi Sharp Indonesia, Macindo, Kabelvision, Indovision dan Mega Sukses Jaya. Sementara sisanya, dari berbagai sektor: Garuda Indonesia, Coca-Cola, Makro, Wyeth Indonesia, Abbot, Datascrip, Home Centro dan Olymphus.

Untuk bisa menggaet sedemikian banyak klien, Budi terus mengembangkan infrastruktur pendukungnya. Caranya, dengan meng-upgrade TI NCS terus-menerus sesuai dengan tingkat kebutuhan. Maka, Budi tak segan-segan melakukan investasi yang cukup besar di sini. Baru-baru ini ia mengeluarkan dana Rp 2 miliar lebih untuk membangun infrsatruktur TI yang lebih memadai. Dana sebesar itu dipakai untuk pembelian hardware, software dan biaya konsultan.

Dengan terobosan TI ini, NCS mampu membuat sistem pelaporan yang cepat kepada klien. Budi melihat, hal ini menjadi daya tarik dan pemicu pertumbuhan NCS yang sangat luar biasa. Maklum, dengan kelebihan itu, NCS mampu menginstal sebuah program di masing-masing kantor kliennya tanpa biaya apa pun.

Melalui program itu, klien bisa mengecek status pengiriman barang yang dilakukan NCS dari waktu ke waktu. Misalnya, perusahaan A meminta NCS mendistribusikan 100.000 dokumen untuk mitra/pelanggannya, dan harus bisa terdistribusi dalam waktu empat hari. Melalui program yang sudah diinstal NCS, mereka bisa mengecek perkembangan ketersebaran dokumen setiap waktu. “Kemampuan inilah yang membedakan kami dibandingkan pemain lain,” kata Budi bangga. Melalui fasilitas yang sama, klien akan bisa mengetahui apakah status pengirimannya sesuai dengan yang diminta atau justru sebaliknya. Berkat terobosan ini, kini semua proses bisnis di NCS bisa online antardepartemen.

Menurut Budi, kelebihan di bidang TI saja dianggapnya belum cukup. Untuk lebih meyakinkan klien, lima tahun sekali ia menawarkan layanannya secara gratis selama satu bulan. “Tawaran itu semata-mata untuk meyakinkan klien jika layanan kami benar-benar berbeda.”

Strategi itu rupanya cukup efektif. Beberapa calon klien yang sudah menikmati pengalaman layanan NCS akhirnya melakukan kontrak kerja sama dengan perusahaan ini. Bahkan, “Beberapa di antaranya hingga kini menjadi klien tetap NCS,” ujarnya. Yang membanggakannya, belakangan ini ia melihat sejumlah perusahaan yang sebelumnya memakai perusahaan sejenis malah mengajak NSM bekerja sama.

Marga Canto Santoso, General Manager Distribusi Bank Permata, mengungkapkan bahwa perusahaannya telah bekerja sama hampir 10 tahun dengan NCS. Tepatnya, ketika bank ini masih bernama Bank Bali. Canto melihat selama ini NCS terus mempertahankan kualitas layanannya. Di matanya, Budi sering tidak memperhatikan hitung-hitungan tarif tinggi. “Mereka kelihatannya lebih mementingkan kepuasan pelanggan terlebih dahulu dibandingkan mengurusi tarif,” katanya.

Yang menjadi nilai plus, NCS kerap menawarkan terobosan baru terkait dengan pelayanan. Meski terbilang baru, NCS sangat menyadari manfaat teknologi. Hal itu bisa dilihat dari sistem pelaporan dan tracking barang/dokumen yang dikirimkan lewat NCS. Alhasil, ketika Bank Permata menanyakan status pengiriman, NCS bisa memberikan datanya secara akurat. Apakah barang itu masih dalam proses perjalanan ke konsumen atau sudah sampai tujuan. “Pokoknya, kalau kami tanya, dalam hitungan detik bisa terjawab,” ujar Canto bersemangat.

Di sisi lain, sistem pelaporannya pun tepat waktu. Katakan, misalnya, 10 dokumen yang harus dikirimkan NCS harus bisa didistribusikan dalam hitungan satu minggu, maka pada H+1 mereka bisa memberikan laporan secara konkret. Termasuk, mengenai status masing-masing dokumennya.

Canto mengatakan, ke depan selama NCS bisa berkomitmen seperti yang sudah-sudah, Bank Permata dipastikan terus menjalin kerja sama dengan perusahaan itu. Kendati sebenarnya saat ini Bank Permata bekerja sama dengan beberapa perusahaan kurir -- khusus untuk wilayah yang tidak digarap NCS -- kerja sama dengan Budi tetap dijadikan sebagai prioritas utama.

Apa yang dikatakan Canto diamini Nanang Rohyat, Direktur PT Sinergi Layanan Integrasi, perusahaan kurir. Nanang mengatakan, di tengah kebanyakan para pemain di bisnis kurir yang kurang begitu menyadari pentingnya peran TI dalam menunjang operasional usaha, Budi justru beranggapan sebaliknya. Tidak mengherankan, sejak kelahirannya, NCS berbeda dari para kompetitor, khususnya jika dibandingkan dengan pemain lokal.

Nanang mencermati, kelebihan di bidang TI ini pula yang kemudian dijadikan senjata oleh Budi dalam meyakinkan konsumen. Berkat dukungan TI, sistem pelaporan NCS bisa dilakukan real time. “Sementara pemain lain harus menunggu beberapa hari hingga laporannya bisa keluar,” ujar pria yang mengaku banyak belajar dari Budi ini. Tak aneh, ia melihat Budi sebagai sosok yang sangat piawai dan memiliki visi yang jauh ke depan.

Perkembangan usaha NCS yang begitu pesat memaksa Budi memperluas produk dan layanannya. Kini NCS tak hanya mengurusi kurir dalam kota (city courier), tapi juga kurir domestik dan internasional, kargo udara & laut, moving, trucking, warehousing, logistik & distribusi. Namun dilihat dari tingkat volumenya, layanan yang paling banyak diminati konsumen saat ini adalah kurir domestik dan international, city courier, warehousing, logistik & distribusi. Komposisinya, 70% city courier dan sisanya jasa yang lain. “Sudah 6-7 ton sehari logistik yang kami kirim,” ujar Budi.

Sementara di sisi lain, ia juga terus menambah tenaga kurir. Untuk setiap kelurahan di wilayah DKI, misalnya, NCS menempatkan tenaga kurirnya paling sedikit empat orang. Bahkan untuk satu kelurahan di Kelapa Gading, NCS menempatkan lebih dari 14 kurir. Sehingga, total tenaga kurir NCS di seluruh Indonesia lebih dari 2.500 orang.

Lalu, berapa omset NCS saat ini? Budi menjelaskan, margin yang didapat dari pengiriman per satu dokumen relatif kecil, hanya berkisar Rp 700-800. Ia mengandaikan, jika NCS mempunyai 3-4 kurir di setiap kelurahan dan bisa mengirimkan 200-300 dokumen sehari, dalam sebulan NCS bisa mengirim 4 juta dokumen. “Tinggal dikalikan saja,” kata Budi yang tak mau mengungkap omsetnya secara gamblang. Sebagai informasi, saat ini NCS bisa melakukan lebih dari 3 juta pengiriman per bulan. Kiriman itu bisa berbentuk dokumen, tagihan hingga barang.

Oleh : Yuyun Manopol & Dedi Humaedi [SWA]
Selengkapnya...